Pencarian kemana arah bangsa ini akan berjalan, satu bentuk yang tidak pernah selesai. Sebagai cita-cita politik bangsa, justru mengalami kebuntuan dalam situasi saat ini sampai 10 atau 20 tahun kedepan. Secara jujur, saya mengenal Bung Karno, Karl Max, Tan Malaka, Che Guevara, Castro, hugo savez dan lainnya sebagai ilustrasi pemikiran laku jaman kebudayaan antar sebuah bangsa yang melakukan perlawanan atas ketidakadilan dari sebuah akar persoalan diantara bangsa-bangsa. Jauh sebelum mengenal mereka, sudah lebih dahulu saya mengenal apa yang disebut para nabi dan rosul di jamannya, melalui cerita politik kenabian – rosul sampai kitab-kitabnya yang menjadi pegangan hingga akhir jaman.
Lalu saya bertanya, kenapa Bung Karno melawan kolonial, kenapa dan apa dasarnya Karl Max melawan dan memperjuangkan kaum buruh, kenapa pula Tan Malaka melakukan perlawanan, begitu juga Che, Castro dan Hugo Savez melawan kaum kapitalisme yang sedang menghisap sumber-sumber kekayaan alam negerinya. Ditarik lebih jauh lagi, kenapa Nabi Isa AS melawan para bangsawan dan raja, Musa AS melawan ketidakadilan, begitu juga Nabi Muhammad SAW melawan bangsa jahiliyah dijamannya. Ini satu bukti, bahwa manusia itu ingin terbebas dari segala bentuk kezoliman, keserakahan dan ketidakadilan. Lalu pertanyaannya, apakah saat ini sudah diperoleh keadilan yang dicita-citakan rakyat Indonesia? Apakah rakyat Indonesia sudah mendapatka kesejahteraan yang dimimpikan sejak sebelum bangsa ini merdeka. Perlawanan terhadap kolonialsime di jamannya untuk merdeka dari segala bentuk penindasan, penghisapan dan kekerasan atas daulat rakyat di bumi merah putih.
Bagaimana dengan kita saat ini? Bangsa yang kaya raya dengan sumberdaya alam, tetapi bangsa yang memiliki rakyatnya miskin, ada 40 juta lebih rakyat miskin, utang luar negeri $1.500 milliar, bencana terjadi dimana-mana akibat dari praktek industri pertambangan, kertas, kelapa sawit, dlsb yang menyediakan bahan mentah bari bangsa barat dan amerika. Apakah ini bentuk dari sebuah kemerdekaan. Lalu, terjadi sebuah perlawanan oleh rakyat yang tertindas, tetapi perlawanan ini di sambut dengan indentik menghalangi pembangunan, memberontak dan sampai tudingan Komunis. Sungguh luar biasa, membungkam hak-hak rakyat hanya dengan cara aktualisasi sejarah yang belum tentu kebenarannya. Bahwa perlawanan yang dilakukan terhadap kaum pemodal (kapitalisme) merupakan bentuk hak-hak asasi manusia yang ada sejak lahir. Bahwa manusia itu mahluk sosial, yang dilahirkan kedunia utuk melakukan hubungan antar manusia untuk tidak saling merugikan, adil dan tidak menjajah satu sama lainnya.
Bahwa paham manusia sejak lahir itu merupakan aktualisasi dari pikiran dan budaya sosial. Sehingga sosialisme itu bukan KOMUNIS, karena sosialisme telah ada sejak manusia ada sebagai mahluk sosial. Pada jaman Nabi, paham sosialisme sudah ada jauh sebelum partai komunis berdiri. Sebelum bangsa-bangsa eropa timur mendirikan partaikomunis atau negara berhaluan komunis. Bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan, sebagai mahluk hidup yang sempurna, maka bagi umat Islam diturunkan kita Alqur’an. Bila dipelajri secara baik dan seksama Alquran memuat isi yg jelas 2/3 mengatur hubungan manusia dan manusia, selebihnya mengatur hubungan manusia dengan alam dan sang penciptanya.
Komunisme muncul ketika, pikiran karl max diadopsi dalam proses pergerakan melawan para kaum borjuis (Kapitalisme) , ketika kapitalsme melakukan ketidakadilan sistem perburuhan di negara dunia pertama dan negara dunia ketiga. Kalau kita refleksinya secara mendalam paham yang dianut karl max tidak jauh berbeda dengan kutipan di alquran dan kitab-kitab lainnya. Tetapi,barat sangat terganggu atas pikiran ini untuk ekspansi modal (kapital) dalam menguasai sumber-sumber daya alam negara ketiga seperi Indonesia.
Tidak habis berpikir juga saya, bahwa setiap tindakan rakyat melawan selalu identik dengan tudingan komunis. Kenapa sosialisme di tuduh komunisme, karena ini merupakan design barat (kapitalisme) untuk menguasai aset dan sumber2 alam di negara dunia ketiga, termasuk Indonesia. Bagaimana dengan masyarakat adat di pedalaman pelosok negeri ini yang melakukan perlawanan terhadap kaum pemodal atas tanah dan hutannya di gusur paksa? Bagaimana dengan kelompok pedagang kaki lima, asongan yang dikejar-kejar Satpol PP sampai membawa korban jiwa anaknya seperti peristiwa di Surabaya, Bagaimana dengan para aktivis, intelektual yang mengingatkan pada regime berkuasa atas penguasaan sumber-sumber kekayaan alam Indonesia oleh pihak asing. Bagaimana dengan petani yang tidak punya tanah berjuang untuk mendapatkan tanah yang dirampas, sementara penguasaha konglomerat memiliki ratusan ribu bahkan jutaan hektar tanah? Apakah salah kalau Buruh minta bebas berekspresi dan berserikat serta hak-haknya dipenuhi oleh perusahaannya? Apakah salah kalau pemerpuan menuntut hak kesetaraan dibidang sosial politik? Apakah mereka salah? Apakah mereka memberontak? Apakah mereka komunis?
Sudah saya menduga jauh sebelumnya dari sebuah cerita dan dokument2 penting, bahwa isu komunisme itu salah satu alat bagi kapitalisme global untuk menguasai aset dan sumber kekayaan alam Bangsa ini. Isu ini mudah memprovokasi para tokoh2 agama, tokoh2 intelektual sebagai kaki tangan kapitalisme untuk terus menghidupkan setiap ada perlawanan rakyat atas ketidakadilan perlakukan para kamu pemodal atas jati diri bangsa Indonesia. Ini merupakan operasi intelejnd dunia yang di pasang sebagai bagian dari design untuk memperluasa penguasaan wilayah koloni-koloni baru atas kekayaan alam bangsa merdeka dan berkembang.
Oleh : Koesnadi Wirasapoetra ( Sekjend SHI )
Lihat Daftar Isi !