PALEMBANG, SELASA - Aksi unjuk rasa dari Urban Poor Linkage (Uplink) di KPUKota Palembang, Selasa (5/5), mendapat penjagaan yang ketat dari kepolisian. Padahal yang berdemo adalah para ibu-ibu yang jumlahnya tidak mencapai 50 orang. Di jalan masuk menuju Kantor KPUKota Palembang Jl Mayor Santoso, dipasangi pagar kawat berduri. Dibelakangnya dihadang dengan kendaraan taktis water canon. Itu masih ditambah puluhan personel Dalmas yang dilengkapi tameng dan tongkat.
"Ini sangat tidak logis. Ibu-ibu dihadapkan pada kawat berduri," kritik perwakilan dari Serikat Hijau Indonesia (SHI), Anwar Sadat yang hadir dalam aksi tersebut.
Ia meminta agar polisi dapat membuka ruang agar ibu-ibu bisa sampai ke Kantor KPUKota Palembang dan menyampaikan aspirasinya dengan baik-baik. Sadat menilai, KPUKota Palembang berkerja secara ambiradul dalam pemilu legislatif 2009 lalu. Lembaga tersebut dinilai dipenuhi orang-orang bermasalah.
"KPUtidak bekerja dengan independen dan kapabel. KPU hanya menjadi tunggangan pihak-pihak tertentu," ujarnya.
Meski dikritik, tetapi polisi tidak bergeming. Permintaan agar pengunjukrasa dapat dibuka akses untuk ke Kantor KPUKota Palembang tidak digubris.
Sumber Sripoku
"Ini sangat tidak logis. Ibu-ibu dihadapkan pada kawat berduri," kritik perwakilan dari Serikat Hijau Indonesia (SHI), Anwar Sadat yang hadir dalam aksi tersebut.
Ia meminta agar polisi dapat membuka ruang agar ibu-ibu bisa sampai ke Kantor KPUKota Palembang dan menyampaikan aspirasinya dengan baik-baik. Sadat menilai, KPUKota Palembang berkerja secara ambiradul dalam pemilu legislatif 2009 lalu. Lembaga tersebut dinilai dipenuhi orang-orang bermasalah.
"KPUtidak bekerja dengan independen dan kapabel. KPU hanya menjadi tunggangan pihak-pihak tertentu," ujarnya.
Meski dikritik, tetapi polisi tidak bergeming. Permintaan agar pengunjukrasa dapat dibuka akses untuk ke Kantor KPUKota Palembang tidak digubris.
Sumber Sripoku
Lihat Daftar Isi !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar